BIOETANOL
SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF PENGGANTI SOLAR
Disusun
Oleh :
1.
Annisa Noviani (4001419027)
2.
Annisa Nurfadhilah (4001419037)
3.
Grecia Maharani I P (4001419056)
4.
Lina Eka
Nuraini (5112419060)
5.
Syauqi Abdurrosyad (4001419068)
6. Muslimatul Khoiriyah (2201419025)
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
KOTA SEMARANG
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Minyak bumi merupakan
sumber daya alam yang dalam proses pembentukannya memerlukan waktu yang sangat
lama. Memerlukan waktu yang sangat lama untuk menghasilkan minyak bumi yang
kemudian dapat diolah menjadi bahan siap jadi.minyak bumi ini tersusun atas
minyak mentah, dimana proses pengolahan minyak mentah inilah yang nantinya akan
menghasilkan bahan siap jadi. Hasil olahan minyak bumi antara lain adalah LPG,
Aviatore Turbine (Avtur), Aviation Gaslonie (Avgas), Kerosin (Minyak Tanah), Bensin,
Solar, Aspal, dan Parafin. Meskipun dalam pembentukannya memerlukan waktu yang
relatif lama, namun permintaan akan bahan bakar minyak saat ini cukuplah besar,
tetapi tingginya permintaan BBM ini tidak diikuti dengan banyaknya persediaan
BBM.
Dari tahun ke tahun
kebutuhan energi di Indonesia terus mengalami peningkatan, hal ini terjadi
seiring dengan meningkatnya perekonomian dan jumlah penduduk di Indonesia. Rata
– rata peningkatan kebutuhan energi di Indonesia pertahunnya sebesar 36 juta barrel oil equivalent (BOE) dari tahun
2000 sampai tahun 2014. Sementara cadangan energi tidak terbarukan, seperti
minyak bumi, gas bumi, dan batu bara semakin menipis. Berdasarkan rencana
strategis (Renstra) Kementrian ESDM Tahun 2015 – 2019, cadangan minyak bumi
Indonesia sebesar 3,6 Miliar barrel diperkirakan akan habis dalam 13 tahun
mendatang. (Sa’adah A, Fauzi A, Juanda B, 2017:118 – 137)
Diantara beberapa hasil
olahan minyak bumi tersebut solar menjadi salah satu yang memiliki permintaan
terbanyak di pasaran. BPH Migas memprediksi bahwa kuota solar 2019 sebesar 14,5
kiloliter akan habis pada November ini, oleh karena itu Pertamina akan menambah
suplai hingga 20%
Di SPBU 54.601.123
Jalan Kalianak, terlihat puluhan truk mengantri di tempat pengisian solar, para
pengemudi memilih untuk mengisi bahan bakar secara full tank atau sekitar 130
liter, dikarenakan bahan bakar solar langka. Salah supir truk mengaku bahwa ia harus
mengantri selama dua jam untuk mendapatkan solar. Supervisor SPBU Jalan
Kalianak Dedi Firmansyahmengatakan, sedah seminggu terkahir terjadi peningkatan
penjualan solar, dalam sehari 24 ribu liter solar dapat habis terjual. Kenaikan
penjualan solar di SPBU Jalan Kalianak tersebut disebabkan karena langkanya
persediaan solar di SPBU lain
Kelangkaan solar juga
terjadi di Pasuruan, di SPBU Latek, Bangil, Kabupaten Pasuruan, terdapat
antrean kendaraan besar yang akan membeli solar, antrean ini kurang lebih
mencapai 1 km. Langkanya solar ini mengakibatkan sopir harus menerima
pembatasan pembelian.
Pada tahun 2014, gap antara produksi minyak bumi dengan
konsumsi BBM sebesar 108,32 ribu barrel. Produksi minyak bumi di Indonesia
tidak cukup untuk memenuhi konsumsi BBM yang selalu meningkat setiap tahunnya.
Sehingga dengan adanya selisih antara produksi dan konsumsi pemerintah
melakukan impor minyak mentah dan BBM dari negara lain. Produksi minyak bumi di
Indonesia mengalami penurunan sebesar 1 juta barrel perharinya, hal ini
berbanding terbalik dengan konsumsi minyak bumi yang selalu mengalami
peningkatan, hal ini menjadikan Indonesia sebagai net importer minyak. Meskipun begitu Indonesia masih tetap
melakukan ekspor minyak bumi tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit jika
dibandingkan dengan jumlah impornya. (Sa’adah A, Fauzi A, Juanda B, 2017:118 –
137)
Saat ini Indonesia
masih mengalami ketergantungan terhadap energi fosil, terutama minyak bumi, hal
ini terlihat dari nilai konsumsi hasil olahan minyak bumi di Indonesia yang
masih tinggi, di sisi lain cadangan energi fosil di Indonesia mengalami
penurunan. Masalah ketersediaan energi khususnya BBM perlu untuk mendapat
perhatian khusus.diperlukan suatu kondisi yang bisa mempertahankan keseimbangan
antara pertumbuhan ekonomi dengan ketersediaan BBM sebagai salah satu prasyarat
untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang lebih maju dan berkelanjutan. (Sa’adah
A, Fauzi A, Juanda B, 2017:118 – 137) keberadaan bahan bakar minyak di pasaran
akan berpengaruh terhadap kestabilan perekonomian mikro masyarakat. Hal ini
dikarenakan tingginya ketergantungan masyarakat akan BBM yang masih sulit untuk
mencari penggantinya. Sektor – sektor yang masih erat kaitannya dengan konsumsi
BBM adalah sector rumah tangga, industri, transportasi, dan kelistrikan.
(Ma’ruf, 2005:1-20)
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa
dampak penggunaan bahan bakar minyak secara terus menerus?
2. Bagaimanakah
biji durian dapat dijadikan sebagai bioetanol?
3. Mengapa
bioetanol dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif pengganti solar?
1.3 Tujuan
1. Untuk
dampak penggunaan bahan bakar minyak secara terus menerus
2. Untuk
mengetahui cara pengolahan biji durian sehingga dapat dijadikan bioetanol
3. Untuk mengetahui apakah bioetanol merupakan
sumber energi alternatif yang tepat sebagai pengganti solar.
1.4
Manfaat
Makalah ini ditujukan kepada masyarakat umum, khususnya untuk produsen bahan bakar minyak
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Dampak Penggunaan Bahan Bakar Minyak Secara Terus Menerus
Penggunaan bahan bakar minyak
secara terus menerus memiliki beberapa dampak negative, diantaranya adalah
pemanasan global, lahan tanah menipis, mempengaruhi iklim, dan mengakibatkan
hujan asam.
Penggunaan minyak bumi
untuk bahan bakar kendaraan ataupun dalam perindustrian yang mengeluarkan
karbon dioksida dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Dalam proses
pembakarannya selain menghasilkan energi dan Karbondioksida (CO2) BBM juga menghasilkan gas – gas
seperti Nitrogen Oksida (NOX),
Sulfur Oksida (SOX)
dan Metana (CH4)
sehingga menyebabkan bertambahnya konsentrasi gas – gas rumah kaca di atmosfer
. bertambahnya konsentrasi gas – gas ini akan menyebabkan fenomena pemanasan
global atau global warming. Pemanasan global dari tahun ke tahun semakin
mengalami peningkatan, hal ini dapat dibuktikan dengan semakin meningkatnya
masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor.
Penggunaan bahan bakar
minyak secara terus menerus ini juga berdampak kepada semakin menipisnya lahan
tanah. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam bidang pertambangan tentunya
membutuhkan lahan yang cukup luas dan juga lahan yang telah digunakan sebagai
lahan pertambangan nantinya tidak akan bisa lagi dimanfaatkan dalam bidang
pertanian ataupun penanaman pohon – pohon dalam jangka waktu tertentu. Hal ini
disebabkan karena tanah yang dijadikan sebagai pertambangan tersebut sudah
kehilangan kesuburannya dan untuk menjadikan tanah tersebut menjadi subiur lagi
tentunya membutuhkan waktu yang lama.
Dalam mengatasi
beberapa dampak negatif dari penggunaan bahan bakar minyak secara terus menerus
ini dibutuhkan sumber energi alternatif yang bersifat dapat diperbarui,
tersedia melimpah dialam, ramah lingkungan, dan relatif murah dalam
pengolahannya, salah satu energi alternatif yang memenuhi syarat tersebut
adalah bioetanol. Bioetanol adalah
etanol yang dibuat dari bahan biologis yang hidup atau baru mati yang dapat
digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industrial.
2.2 Pengolahan Biji Durian Menjadi Bioetanol
Kebutuhan
minyak bumi cenderung meningkat sebaliknya cadangan minyak bumi makin menipis.
Untuk itu pemanfaatan bioetanol sebagai sumber energi alternatif, perlu
mendapat perhatian serius dalam mengatasi masalah bahan bakar minyak disaat ini
maupun untuk waktu waktu yang akan datang. Bioetanol merupakan bahan bakar yang
terbarukan dan ramah lingkungan dapat dihasilkan dari konversi karbohidrat.
Indonesia memiliki berbagai macam produk
pertanian yang potensial menghasilkan bioetanol karena mengandung karbohidrat
dengan kadar tinggi.
Salah satu bahan yang dapat dijadikan sebagai bioetanol
adalah biji durian. Biji durian dipilih sebagai energi alternatif yang cukup
potensial karena pada dasarnya durian memiliki kandungan pati, gula, atau
selulosa yang bisa dimanfaatkan dalam proses pembuatan bahan bakar alternatif.
Melimpahnya bahan baku durian dan mudahnya proses pembuatan bahan bakar
tersebut, menjadikan bioetanol biji durian sebagai alternatif tepat bagi
masyarakat.
Tahap-tahap pembuatan bioetanol durian adalah:
1. Biji
durian dipilih dengan kualitas yang bagus
2. Mencuci
biji durian yang telah dipilih
3. Merebus
biji durian yang telah dicuci
4. Memarut
biji durian yang telah lunak setelah direbus
5. Merendam
biji durian untuk diambil patinya
6. Merebus
pati dan menambahkan cendawan (Aspergillus sp.) yang akan menghasilkan enzim
alfamilase dan glikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa atau
gula sedernaha (C6H12O6)
7. Memfermentasi
glukosa selama 3 hari dan akan menjadi tiga lapisan (lapisan terbawah endapan
protein, diatasnya ada air dan etanol) dan pada hari keempat hasil fermentasi
yang diperoleh kemudian direbus pada suhu 78ºC
8. Melakukan
penyulingan. Hasil penyulingan normal akan menghasilkan etanol.
Menurut
(Murniati, Handayani S, Risfianty D, 2018) Kadar pati yang diperoleh dalam satu
kilogram biji durian yang sudah dibersihkan dari kulit arinya sebesar 54,15%.
Hal ini menunjukkan bahwa kandungan pati sangat besar, sehingga limbah biji
durian dapat dimanfaatkan menjadi biotenol.
Dalam
fermentasi, pH memiliki pengaruh, kadar etanol yang dihasilkan pada proses
fermentasi yang paling tinggi ditunjukkan pada pH 4, yaitu sebesar 47,02%.
Penurunan kadar etanol pada pH dibawah 4 disebabkan enzim yang dihasilkan tidak
mengalami proses perkembangan dengan baik. Hal tersebut dikarenakan cendawan memerlukan
suhu 25-300 C dan pH 4-4,5 agar dapat berkembang dengan baik. (Murniati,
Handayani S, Risfianty D, 2018)
Suhu
selama proses fermentasi sangat menentukan jenis mikroorganisme dominan yang
akan tumbuh. Umumnya diperlukan suhu sekitar 20 – 30ºC untuk pertumbuhan
mikroorganisme. Bila suhu kurang dari 20 – 30ºC pertumbuhan organisme penghasil
asam akan lambat sehingga dapat terjadi pertumbuhan produk.(Jannah A, 2010)
Kadar
etanol dapat diukur menggunakan alkohol meter. Prinsip kerja dari alkohol meter
berdasarkan berat jenis campuran antara alkohol dengan air. Cara pengukurannya
yaitu memasukkan alcohol meter dalam gelas ukur yang panjangnya melebihi
alkohol meter dan dalam gelas ukur tersebut telah berisi cairan etanol yang
akan diukur. Alkohol meter akan tenggelam dan batas cairannya akan menunjukkan
berapa kandungan etanol dalam larutan tersebut.
2.3
Kelebihan Bioetanol Sebagai Energi Alternatif Pengganti Solar
Etanol
atau Etil Alcohol dengan rumus kimia C2H5OH adalah cairan tak berwarna
dengan karakteristik antara lain mudah menguap, mudah terbakar, larut dalam
air, tidak karsinogenik, dan jika terjadi pencemaran tidak memberikan dampak
lingkungan yang signifikan. Pada tahiun 1985 Brazil mengeluarkan program pencampuran
20% Bioetanol dengan bensin untuk menghemat 40% konsumsi bensin. Sebelum
dicampur, bioetanol harus dimurnikan hingga 100%. Campuran ini dikenal dengan
sebutan gasohol. Bioetanol memiliki kelebihan antara lain :
1.
Bioetanol aman digunakan sebagai ahan
bakar, titik nyala etanol tiga kali lebih tinggi dibandingkan bensin
2.
Emisi hidrokarbon lebioh sedikit
(Jannah A, 2010)
BAB III
PENUTUP
1.1 Simpulan
1. Penggunaan
bahan bakar minyak secara terus menerus memiliki beberapa dampak
negative,diantaranya adalah pemanasan global, lahan tanah menipis, mempengaruhi
iklim, dan mengakibatkan hujan asam.
2. Biji
durian akan difermentasikan sehingga dihasilkan
alkohol(etanol) kemudian dengan pengolahan lebih lanjut menghasilkan bioetanol.
3. Bioetanol
aman digunakan sebagai bahan bakar, titik nyala etanol tiga kali lebih tinggi
dibandingkan bensin sehingga bioetanol
merupakan sumber energi alternatif yang tepat sebagai pengganti solar.
1.2 Saran
Sebaiknya produsen bahan bakar minyak beralih ke bioetanol karena bioetanol ramah lingkungan, bahannya mudah didapat, dan harganya yang relatif terjangkau, dan juga bahannya merupakan sumber daya alam yang dapat terbarukan
DAFTAR
PUSTAKA
Jannah
A.2010.Proses Fermentasi Hidrolisat Jerami Padi Untuk Menghasilkan Bioetanol.Jurnal Teknik Kimia.Vol 17, No. 1
Ma’ruf
A.2005.Analisis Penawaran dan Permintaan BBM.JESP.Vol 6, No, 1
Murniati,
Handayani S, Risfianty D.2018.Bioetanol dari Limbah Biji Durian.Jurnal Pijar MIPA.Vol 13, No. 2
Sa’adah A, Fauzi A, Juanda B.2017.Peramalan Penyediaan dan Konsumsi Bahan Bakar Minyak Indonesia dengan Model Sistem Dinamik.Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia.Vol 17, No. 2
Komentar
Posting Komentar